Senin, 24 Oktober 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.a.8

Pengambilan Keputusan Berbasis 
Nilai - nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin 

 “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka 
yang berharga / utama itu lebih baik. “

( Teaching kids the count is fine but teaching them what counts is best )

Bob Talbert

 Menurut saya kaitan kutipan diatas dengan proses pembelajaran saat ini adalah dilema etika antara pencapaian atau ketercapaian kemampuan akademik dengan penanaman karakter pada anak itu sendiri, bagaimana nilai- nilai kebajikan universal dapat merasuk ke diri anak didik kita.

Nilai atau prinsip yang saya pegang dalam pengambilan keputusan adalah rasa tanggung jawab dari keputusan yang saya ambil dan sedapat mungkin keputusan tersebut memberikan dampak positif bagi anak didik saya dan dapat menyamakan pendapat dari berbagai pihak sehingga meminimalkan terjadinya pertentangan .

Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus dapat menuntun anak murid kita untuk menebalkan garis pada diri mereka sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Dalam pengambilan keputusan pemimpin pembelajaran harus dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Menurut saya, pembelajaran modul ini telah memberikan pembelajaran tentang keterampilan pengambilan keputusan yang mendasari pada nilai- nilai kebajikan universal. Pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma , 3prinsip  serta 9 langkah- langkah pemgambilan dan pengujian keputusan. Yang mesti diimplemaentaskan dalam setiap pengambilan keputusan agar didapat keputusan yang bijak dan berpihak pada murid. 

Uraian Dari Pertanyaan Pemantik

Filosofi Pratap Triloka yang terdiri dari  ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh besar dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ki Hajar Dewantara berpandangan bahwa sebagai seorang guru, harus dapat  memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Pratap Triloka ing madyo mangun karsa, dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Pratap Triloka Tut Wuri Handayani memaknai bahwa guru adalah pamong yang menuntun murid untuk mencapai kebahagiaan sebagai umat manusia dan sebagai anggota masyarakat.

Seorang pemimpin pembelajaran semestinya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid dan mendorong pendididk untuk dapat mengambil keputusan secara tepat. Nilai-nilai positif tersebut antara lain mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai ini merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir cermat untuk mengambil keputusan yang benar.

        Materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang penyelesaiannya datang dari coachee itu sendiri. Dengan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA yang disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan akan menghasilkan keputusan yang lebih bertanggung jawab. 

        Kompetensi sosial emosional sangat diperlukan agar guru atau pemimpin pembelajaran dapat fokus dan melakukan kesadaran penuh dalam mengontrol dirinya, memberikan pembelajaran sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang berpihak pada murid, tanggung jawab dan mengandung nilai- nilai kebajikan. Dalam pengambilan keputusan tentang dilema etika kompetensi sosial emosional sangat berguna dalam membantu pengambilan keputusan yang jauh lebih berpihak pada murid.  Dengan keberagaman karakteristik yang dimiliki masing - masing murid maka seorang pemimpin pembelajaran harus dapat mengambil keputusan agar pembelajaran menyenangkan dan dapat memenuhi gaya belajar masing- masing murid.

Seorang pendidik kerap kali dihadapkan pada kasus-kasus atau masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak sadar pengambilan keputusan akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Jika nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai kebajikan universal maka keputusan yang diambil akanlebih bijak dan dapat dipertanggung jawabkan Nilai-nilai yang dianut harus sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma sehingga keputusan yang diambilnya lebih sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang harus dimiliki oleh guru adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

        Pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika kita dapat mengidentifikasi masalah masalah apakah kasus tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Apabila kasus yang kita hadapi adalah bujukan moral maka wajib bagi kita tetap mempertahankan sebuah kebenaran, namun apabila kasus yang kita hadapi adalah sebuah dilema etika maka diperlukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah, maka keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang dapat membela sebagian banyak orang sehingga lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat tercipta.

        Tantangan-tantangan yang saya hadapi di lingkungan sekolah saya untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terkait dengan perubahan paradigma dan budaya positif di sekolah yang implementasinya masih banyak kekurangan karena lebih terpaku pada budaya lama yang seharusnya sudah kita rubah jauh hari. Posisi kontrol dan budaya  restitusi juga coaching belum semua warga sekolah dapat langsung menerima pemahaman ini. Tantangan waktu penerapan yang masih perlu di upayakan secara terus- menerus agar seluruh warga sekolah menyadari bahwa pendidikan yang kita selenggarakan harus berpihak sepenuhnya pada murid. Warga sekolah juga perlu memiliki pemahaman tentang tanggung jawab akan keputusan yang sudah diambil.

        Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid dimaksudkan bahwa segala keputusan harus berpihak pada kebutuhan murid dalam belajar. Seorang pemimpin pembelajaran harus dapat memberi peluang seluas- luasnya terhadap murid agar mereka dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki.  Tugas seorang guru hanya memfasilitasi pembelajaran agar seluruh murid dapat menikmati pembelajaran sesuai bakat dan minat yang mereka miliki. Hal ini dibutuhkan guru yang memiliki keterampilan yang baik dan teknik pengambilan keputusan dalam merancang pembelajaran sesuai profil belajar murid.

        Apabila guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah memerdekakan dan berpihak pada  murid  dalam setiap pengambilan keputusan, maka pada dasarnya guru telah melakukan penebalan garis pada diri murid itu sendiri. Kodrat alam setiap murid yang berbeda- beda dengan pelayanan yang sesuai kebutuhan mereka dapat meningkatkan percaya diri pada murid sehingga mereka akan berkembang menjadi pribadi sesuai dengan apa yang mereka minati. Hal ini akan semakin memperkuat kreatifitas mereka sehingga memiliki daya lenting yang kuat. Figur masa depan yang mereka inginkan dapat mereka capai dengan kesadaran yang penuh sebab apa yang ingin ia raih sesuai dengan keinginan dan kesenangan mereka.  Perlunya pembelajaran yang berdiferensiasi harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin pembelajaran di kelas atau di sekolah. Dengan pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang memerdekakan dan berpihak pada murid.

 Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya yaitu: 

  • Keterkaitan dengan Filosofi KHD dengan sistem among yang menuntun kodrat anak sehingga pengambilan keputusan harus berpihak pada murid dan mengantarkan pada terciptanya profil pelajar Pancasila, belajar dengan merdeka dalam lingki]ungan yang aman dan nyaman.
  • Keterkaitan dengan penerapan budaya positif bahwa pengambilan keputusan dengan penerapan BAGJA dengan pendekatan Inkuiry Apresiatif yang membantu terwujudnya lingkunga yang aman dan nyaman bagi seluruh murid mendorong terjadinya interaksi yang positif antar warga sekolah
  • Keterkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu pengambilan keputusan semestinya harus dapat diambil oleh setiap pemimpin pembelajaran tentang bagaimana ia  merancang pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pemilihan metode dan media yang tepat.
  • Keterkaitan dengan pembelajaran sosial emosional , pengambilan keputusan harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh atau mindfulnes agar keputusan yang di dapatkan adalah sebuah keputusan yang berkualitas sebab pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan tenang  tanpa disertai emosi.
  • Keterkaitan dengan Coaching, bahwa dalam pengambilan keputusan diperlukan keterampilan coaching dengan menggunakan alur TIRTA agar identifikasi terhadap permasalahan dan penemuan solusi dari masalah itu sendiri sebagaimana yang memang diperlukan.

            Pemahaman saya tentang Dilema Etika (benar lawan  benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih satu diantara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi saling bertentangan. Sedangkan Bujukan Moral (benar lawan salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. 

        Dalam perjalanannya ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan agar keputusan yang diambil berpihak pada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

        Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yaitu : 

  1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

    Dalam dilema etika juga dikenal 3 Prinsip pengambilan keputusan yaitu: 

  1. Berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based thinking) di tentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan. 
  2. Berpikir berbasis peraturan (Rule based thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat 
  3. Berpikir berbasis rasa peduli (Care based thinking) prinsipnya "Lakukan kepada orang lain seperti yang anda ingin mereka lakukan kepada anda". Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan simpati.
Selain 4 Paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan ada juga 9 langkah dalam pengambilan dan Pengujian keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai kebajikan universal yang saling bertentangan. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan Langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan. Jangan langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. 
  1. Langkah pertama dalam mengambil keputusan adalah dengan mengenali nilai – nilai yang saling bertentangan. 
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam kasus yang mengandung dilema etika.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan. Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail.
  4. Pengujian benar atau salah dalam pengujian dan pengambilan keputusan
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi opsi trilema 
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
        Pengambilan keputusan yang merupakan dilemma etika sering dialami oeh setiap guru sebagai pemimpin pembelajaran, demikian juga saya yang kerap kali ditemukan pada permaslahan yang harus menentukan pilihan yang sama- sama benar. Namun dalam pengambilan keputusan selama ini belum mempertimbangkan paradigma, prinsip dan langkah- langkah pengambilan keputusan karena batas pengetahuan saya yang belum sampai disitu.. Meski saya sudah mempertimbangkan nilai- nilai kebajikan dalam sebuah pengambilan keputusan. Namun setelah saya memahami 4 paradigma , 3 prinsip dan 9 langkah- langkah dalam pengambilan keputusan saya mendasarkan bahwa pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, mengandung nilai – nilai kebajikan dan sebuah keputusan yang harus bertanggung jawab.

Dampak mempelajari modul ini dalam pengambilan keputusan menjadikan kita lebih hati- hati dalam mengidentifikasi sebuah masalah atau kasus serta berpegang teguh  pada nilai- nilai kebajikan universal yang menjadikan kita sebagai pemimpin pembelajaran yang bijaksana dalam pengambilan keputusan. Merefleksi kembali apakah keputusan yang kita ambil sudah tepat dan berpihak pada sebagian banyak orang ataukah keputusan yang kita ambil belum mewakili suara dan kebutuhan banyak orang. 

Sebelum mempelajari modul ini dalam mengambil keputusan yang saya lakukan yaitu  dengan mengidentifikasi permasalahan dan menyelesaikan secara muyawarah tanpa melakukan langkah- langkah pengambilan keputusan. Setelah mempelajari modul ini saya melakukan pengambilan keputusan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian terlebih dahulu sebelum keputusan tersebut diambil, apabila sebuah keputusan yang kita ambil sudah lolos dalam pengujian maka keputusan tersebut dapat diambil atau dilaksanakan hal ini dilakukan untuk meminimalkan resiko yang mungkin terjadi dari keputusan yang telah kita ambil atau sepakati.

Sebagai seorang individu keterampilan mengambil keputusan yang saya pelajarai dalam modul ini memberikan pengetahuan secara khusus tentang konsep serta langkah- langkah dalam pengambilan keputusan yang dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari- hari. Keterampilan pengambilan keputusan dapat saya asah dari modul ini.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran sangatlah dibutuhkan keterampilan pengambilan keputusan oleh karena itu modul ini sangatlah membantu kita akan  pemahaman bahwa seorang pemimpin pada setiap saat ada permasalahan yang harus diselesaikan secara bijak. Modul ini telah membantu saya dalam meningkatkan keterampilan untuk pengambilan dan pengujian keputusan yang berupa dilema etika maupun bujukan moral. Saya lebih yakin dan mantap dalam setiap pengambilan keputusan.






Sabtu, 08 Oktober 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3.a.8


 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK


  Sumber: Foto Pribadi

Dalam modul 2.3 diuraikan materi tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik. Coaching merupakan keterampilan kolaborasi yang baik antara coach dan coachee yang bertujuan untuk mengembangkan dan menggali potensi sedalam- dalamnya yang sebelumnya belum dimiliki atau sudah dimiliki oleh seorang coachee (Grant, 1999).. Chouching merupakan proses belajar yang berfokus pada penemuan solusi bagi permasalahan yang dihadapi coachee yang  datang dari coachee itu sendiri.

Ada 4 paradigma berfikir coaching antara lain: 1. Fokus pada coachee yang akan dikembangkan,2. Bersikap terbuka dan ingin tahu, 3. Memiliki kesadaran diri yang kuat, 4. Mampu melihat peluang baru di masa depan. Pada proses coaching menggunakan prinsip- prinsip sebagai berikut  :

  • 1.       Kemitraan
Dalam coaching kedudukan antara coach dengan coachee adalah setara tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Adanya penyetaraan antara coach dengan coachee memberikan peluang untuk mencipptakan komunikasi yang terbuka dan eksploratif.
  • 2.       Proses kreatif
Melalui percakapan dua arah coaching yang dapat memicu proses berfikir coachee dan memetakan dan menggali situasi coachee  untuk menghasilkan atau memunculkan  ide- ide baru yang berguna bagi dirinya.
  • 3.       Memaksimalkan potensi
Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan, yang paling mungkin dilakukan dan paling besar kemungkinan berhasilnya. Selain itu juga, percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh rekan yang sedang dikembangkan. Kompetensi inti yang harus ada dalam coaching adalah : Kehadiran penuh ( presence ) , Mendengarkan aktf , Mengajukan pertanyaan berbobot. Rangkaian kompetensi dalam proses coaching menggunakan alur percakapan TIRTA yang terdiri dari, Tujuan, Indentifikasi, Rencana aksi dan Tanggung jawab.

Sebelum saya mempelajari modul ini saya berfikir bahwa coaching dilakukan oleh seorang yang lebih senior kepada junior atau antara atasan dengan bawahan. Dalam pendidikan saya mengenal coaching selama ini hanyalah kegiatan  yang dilakukan berupa supervisi oleh kepala sekolah kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas.  Setelah saya mempelajari modul ini coaching tidak harus diberikan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya melainkan coaching dilakukan mendasari pada prinsip kemitraan yang mengutamakan kesetaraan antara coach dengan coachee.

Adapun tantangan implementasi coaching disekolah antara lain  adalah banyak diantara warga sekolah yang belum memahami bagaimana proses coaching yang baik dan harus dilakukan di sekolah. Kebiasaan  selama  ini supervisi akademik  ( coaching ) hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam setahun itupun hanya menyangkut supervisi tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru senior di sekolah.  Supervisi hanya bersifat evaluasi  dan tagihan kepala sekolah terhadap kinerja guru- guruya.

Solusi untuk tantangan yang ada antara lain adanya sosialisasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman coaching kepada warga sekolah. Dalam coaching seorang coach hanya menekankan pada proses mendengar  dan sedikit bertanya untuk merangsang ide- ide yang bisa datang dari coachee. Dalam hal ini dibutukan keterampilan komunikasi yang baik agar dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya coaching disekolah. Harus ada kolaborasi yang baik dari setiap warga sekolah agar coaching tidak hanya menyangkut pembelajaran di kelas saja namun juga permasalahan- permasahan di luar kelas yang dapat diselesaikan dengan proses coaching.

Peran guru penggerak yang harus dapat menjadi coach bagi guru lain / rekan sejawat mendorong kepedulian untuk memperkenalkan hal- hal yang baru dipelajari dalam proses belajar selama ini. Seoarang coach sangat diperlukan dalam membantu proses pembelajaran yang berpihak pada murid sebab lebih menekankan pada temuan komitmen untuk mengambil keputusan bertanggung jawab yang datang dari diri sendiri sehingga kesadaran internal dapat terbentuk dan untuk kedepannya akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik .

Untuk kedepannya  menerapkan coaching akan dilaksanakan dalam :

  • 1.       Pembelajaran bersama murid maupun rekan sejawat untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
  • 2.       Melaksanakan coaching tidak sebatas pada supervisi akademik setiap akhir semester atau akhir  tahun ajaran saja sebagaimana yang sudah berlaku disekolah selama ini diberlakukan di sekolah.
  • 3.       Tidak membatasi proses coaching hanya menyangkut pembelajaran di dalam kelas saja, namun juga masalah- masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di luar kelas maupun  pekerjaan lain.

Emosi yang dirasakan selama mempelajari materi ini antara lain: terpanggil untuk terus belajar dan berlatih mendapatkan pemahaman yang lebih baik dalam proses coaching, tertantang untuk mengimplementasikan pengetahuan tentang coaching dan mempraktikan coaching kepada murid maupun rekan sejawat, Ingin selalu mengasah pemahaman tentang coaching dengan kolaborasi bersama kepala sekolah dan rekan sejawat.

Yang sudah baik dan perlu diperbaiki yaitu : 1. Mendapatkan pemahaman tentang coaching dan belajar mempraktikan bersama rekan CGP, dengan bertukar peran dan diskusi untuk perbaikan lebih lanjut, Yang masih perlu diperbaiki dalam berperan sebagai coach antara lain dalam melakukan kalibrasi dan menemukan pertanyaan berbobot yang mampu menggiring coachee menemukan solusi akan masalah yang dihadapi.

Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi: 1. Menambah pemahaman peran seorang pendidik untuk dapat menjadi seseorang yang dapat mengoptmalkan kemampuan diri 2.Mengimplementasikan coaching di lingkungan sekolah maupun linkungan keluarga.

                                                                        Sumber: Foto Pribadi

Adapun tantangan implementasi coaching disekolah antara lain  adalah banyak diantara warga sekolah yang belum memahami bagaimana proses coaching yang baik dan harus dilakukan di sekolah. Kebiasaan  selama  ini supervisi akademik  ( coaching ) hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam setahun itupun hanya menyangkut supervisi tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru senior di sekolah.  Supervisi hanya bersifat evaluasi  dan tagihan kepala sekolah terhadap kinerja guru- guruya.

Solusi untuk tantangan yang ada antara lain adanya sosialisasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman coaching kepada warga sekolah. Dalam coaching seorang coach hanya menekankan pada proses mendengar  dan sedikit bertanya untuk merangsang ide- ide yang bisa datang dari coachee. Dalam hal ini dibutukan keterampilan komunikasi yang baik agar dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya coaching disekolah. Harus ada kolaborasi yang baik dari setiap warga sekolah agar coaching tidak hanya menyangkut pembelajaran di kelas saja namun juga permasalahan- permasahan di luar kelas yang dapat diselesaikan dengan proses coaching.

Keterkaitan materi coaching untuk supervisi akademik dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu keduanya sama- sama bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi yang menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan  belajar murid  berdasarkan minat murid, kebutuhan belajar murid dan profil murid. Dalam melakukan pemetaan kebutuhan belajar terkadang guru menemukan berbagai masalah , sorang guru bisa memanfaatkan proses coaching dalam menemukan solusi akan permasalahan tersebut. Peran coaching sangat diperlukan dalam pembelajaran berdiferansiasi.

Keterkaitan antara materi coaching untuk supervisi akademik dengan pembelajaran social emosional yaitu pada proses yang sama- sama membutuhkan ketenangan, kenyamanan  dan tidak terburu- buru. Peran pembelajaran social emosional dapat membantu coach menjadi pendengar yang aktif dan tetap focus pada coachee sementara bagi seorang coahee pembelajaran social emosional dapat membuat dirinya dalam posisi tenang untuk membantu dirinya memunculkan ide- ide baru dalam mencari solusi akan permasalahan yang sedang dihadapinya dan menemukan keputusan yang bertanggung jawab. Dalam KSE yang mencakup kesadaran diri, kesadaran social, pengelolaan diri, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sangat bermanfaat bagi seoaran coach dan coachee saat melakukan coaching.

Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah menuntun tumbuhnya dan hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Seorang pendidik dapat memanfaatkan keterampilann coaching untuk membantu murid dalam mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid dibebaskan untuk menemukan kekuatan diringaya sementara peran guru adalah sebagai pamong yang mendampingi murid dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan – kekuatan dirinya yang tidak akan membayakan bagi dirinya sendiri. Sistem among yaitu Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo mangun Karsa, Tut Wuri Handayani menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching.

Oktober 2022

Penulis

Senin, 12 September 2022

AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

KEYAKINAN KELAS SEBAGAI PENERAPAN BUDAYA POSITIF


                                                                 Sumber Foto Pribadi

          Untuk itu penerapan budaya positif tidak bisa meninggalkan peran seorang guru yang harus mampu menjadi agen perubahan dalam ekosistem sekolah. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat memberikan tantangan tersendiri  bagi guru karena murid  yang dihadapi adalah generasi yang penuh dengan keterbukaan. Begitu mudah budaya luar masuk dan diadaptasi oleh murid- murid kita. Hal ini menuntut kita untuk dapat mengarahkan murid agar tetap mempertahankan budaya yang sesuai dengan khasanah Pancasila.

        Dari pengertian budaya positif yaitu nilai- nilai, keyakinan- keyakinan dan kebiasaan- kebiasaan disekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan tanggung jawab.Oleh karena itu penerapan budaya positif diawali dari hal- hal yang sifatnya kecil dan sederhana. Itulah alasan mengapa keyakinan kelas dibuat untuk membawa murid- murid kita menerapkan budaya positif yang dimulai dari lingkup kelas.

            Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara  akan “ tujuan pendidikan yaitu  menuntun segala kodrat yang ada pada anak- anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”. Jadi salah satu tindakan menuntun adalah mengarahkan agar murid- murid kita dapat memiliki motivasi yang lahir dari dalam diri mereka untuk dapat mengontrol tindakan maupun prilaku mereka sehari- hari.

            Untuk dapat menerapkan budaya positif di sekolah kita tidak dapat menempuh dengan cara instan, kita mulai dari hal- hal kecil untuk dimaknai oleh murid sebagai pedoman bertindak dan bertingkah laku. Untuk mengarahkan murid mewujudkan budaya positif disekolah  kita memulai dari pembuatan keyakinan kelas. Keyakinan kelas merupakan kesepakatan yang dibuat atau diusulkan oleh seluruh siswa di kelas untuk disepakati bersama sebagai keyakinan kelas. Kesepakatan tersebut dibuat oleh siswa dengan pengawasan dan panduan dari guru. Setiap siswa diberikan hak yang sama dalam membuat kesepatan bersama.

          Demikian yang dilakukan di SMPN 1 Rantau Pandan, untuk memulai penerapan budaya positif dengan membuat kesepakatan atau keyakinan kelas terlebih dahulu. Langkah- langkah yang ditempuh antara lain:

  • Guru mengenalkan budaya positif kepada murid, dan pentingnya keyakinan kelas yang akan dibuat.
  • Guru mengarahkan murid bahwa keyakinan yang akan mereka buat bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan pembelajaran.
  • Guru memimpin dan memantau murid dalam membuat kesepakatan.
  • Semua murid mendapatkan kesempatan yang sama dalam menuangkan ide ataugagasan.
  • Mendiskusikan dan umpan balik terhadap kesepakatan dari masing- masing murid.
  • Jika sudah mendapatkan kata sepakat dan murid memahami konskensi dari pelanggaran terhadap kesepakatan yang mereka buat bersama.
  • Semua murid menandatangani hasil kesepakatan yang akan dilaksanakan di kelas mereka, sebagai bentuk rasa tanggung jawab untuk pelaksanaannya.

2.     


    Sumber: Foto Pribadi

Sumber: Foto Pribadi
                                                                                                                                   

        Kesepakatan yang sudah dihasilkan dan dituliskan dalam kertas sticky notes atau yang lainnya kemudian diseleksi bersama, untuk menentukan hal- hal  yang bisa disepakati dan mana yang tidak bisa disepakati. Hasil kesepakatan bersama kemudian dijadikan sebuah keyakinan oleh seluruh warga kelas. Setiap murid  menandatangani keyakinan kelas yang telah mereka buat sebagai sebuah pertanggungjawaban mereka akan apa- apa yang sudah mereka putuskan secara bersama. Keyakinan kelas akan dijadikan pedoman bertindak dan bertingkah laku sebagai acuan semua warga kelas.

        Berangkat dari keyakinan kelas tersebut budaya positif sekolah diwujudkan perlahan- lahan. Murid digiring untuk melakukan pembiasaan- pembiasaan atau menerapkan nilai- nilai positif dalam lingkup kecil terlebih dahulu yaitu kelas. Setelah hal ini diterapkan dengan baik di masing- masing kelas maka secara tidak langsung budaya positif di sekolah dapat terwujud. Selain itu keterlibatan  seluruh warga sekolah sangat diperlukan untuk mewujudkan budaya positif ini. Oleh karena itu warga sekolahpun juga harus mendapatkan pemahaman tentang budaya positif yang akan diterapkan di sekolah.


  Sosialisasi Budaya Positif di SMPN 1 Rantau Pandan
   Sumber: https://youtu.be/QqYTk_7OW4w


Jumat, 09 September 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1.a.8

 

MEMENUHI KEBUTUHAN MURID DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI



Untuk dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi sangat diperlukan keterampilan seorang guru untuk mengatur jalannya pembelajaran yang membawa murid dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Pembelajaran berdiferensiasia adalah suatu strategi yang dilakukan guru dengan tujuan memenuhi kebutuhan murid yang beragam dan mendorong murid untuk belajar. Konsep dasar Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. ( Tomlinson 2001)

Keputusan – keputusan yang diambil tersebut adalah:

1.      Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas

2.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.

3.  Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi

4.      Manajemen kelas yang efektif. 

5.      Penilaian berkelanjutan

Hal- hal yang perlu diketahui dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas antara lain:

  • Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif, Cara penerapan pembelajaran berdiferensiasi guru harus proaktif dalam merencanakan pembelajaran dikelas dengan asumsi bahwa murid memiliki kebutuhan yang berbeda- beda. Setidaknya guru harus memfasilitasi sebagian besar dari jumlah murid yang ia ampu.
  • Pembelajaran Berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif, dalam segi penugasan tidak mengutamakan diferensiasi jumlah namun lebih menonjolkan kwalitas dari pembelajaran.
  • Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian, yang dilakukan guru dari awal pembelajaran, pada proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Penilaian digunakan oleh guru untuk mengambil keputusan dalam menentukan strategi pembelajaran dan perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.
  • Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk. Dengan membedakan ketiga elemen ini, guru menawarkan pendekatan berbeda terhadap apa yang dipelajari murid, bagaimana mereka mempelajarinya, dan bagaimana mereka menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. 
  • Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid,  pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman sebelumnya — dan bahwa tidak semua murid memiliki fondasi belajar yang sama pada awal proses pembelajaran.
  • Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual, Pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh irama berulang dari melakukan persiapan kelas, mengulas kembali, dan berbagi, yang kemudian diikuti oleh kesempatan untuk eksplorasi, ekstensi (pendalaman materi), dan produksi (menghasilkan pekerjaan) individu atau kelompok kecil.
  • Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis, Guru memantau kecocokan antara kebutuhan murid dan proses pembelajaran mereka serta membuat penyesuaian sebagaimana diperlukan.   

3.                Langkah awal yang harus dilakukan guru di dalam kelas adalah memahami apa saja yang dibutuhkan murid kemudian melakukukan penilaian untuk  memetakan kebutuhan murid terlebih dahulu, dilanjutkan menentukan strategi kreatif dan proaktif yang harus diambil guru agar murid mendapatkan konten yang dia butuhkan , melakukan proses belajar yang tidak menyulitkan dan menghasilkan produk berupa hasil pemahaman akan  pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan profilnya.

Pemetaan yang dilakukan guru meliputi:

1.      Kesiapan belajar ( Readnes )

Kesiapan belajar meliputi tingkat kemampuan murid memahami keterampilan baru, pemahaman terhadap konten dan konsep baru. Terlepas dari tingkat intelejensi murid namun apakah tingkat pemahaman yang sudah dimiliki murid sesuai dengan pengetahuan maupun keterampilan yang akan diajarkan oleh guru.

2.      Minat belajar murid ( Interest )

Dalam memetakan minat belajar murid guru harus mempertimbangkan apa yang menjadi hobi, apa yang menjadi kesuakan dan apa yang tidak disukai oleh murid itu sendiri. Murid dapat menggunakan ide dan keterampilan yang ia miliki untuk mempelajari ide dan keterampilan baru , murid merasa  memiliki kecocokan antara sekolah dan kecintaannya sehingga dapat meningkatkan motivasi dalam belajar. Minat merupakan salah satu motivator penting bagi murid untuk terlibat aktf dalam proses pembelajaran.

3.      Profil belajar murid

Profil belajar murid berkaitan dengan lingkungan,  pengaruh budaya ( pendiam ekspresif,personalsantai , dll ), dan gaya belajar yang paling nyaman murid lakukan antara lain visual, auditori dan kinestetik. Selain itu adanya prefensi kecerdasan majemuk yang juga harus diperhatikan oleh guru dalam memetakan kebutuhan belajar murid- muridnya. Pemetaan yang berdasar pada profil belajar murid ini bertujuan untuk memudahkan murid belajar secara natural dan efisien.

Ada  3 strategi yang digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu :

1.       Diferensiasi konten

2.       Difernsiasi proses

3.       Diferensiasi produk

Adapun langkah yang harus diambil guru untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi antara lain :

a.       Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh murid

b.      Memetakan kebutuhan murid

c.       Melakukan strategi diferensiasi

d.      Melaksanakan penilaian ( assement ).



Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pembelajaran harus berpihak pada anak, dalam pendidikan seorang pendidik harus menyesuaikan pembelajaran yang diselenggarakan, bagaimana cara memberikan pelajaran, metode apa yang akan digumakan dan seperti apa perlakuan guru terhadap murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman mereka. Sebelum pembelajaran dimulai guru harus melakukan pemetaan kebutuhan murid dengan melakukan diagnostik seperti survai , wawancara, yang boleh melibatkan rekan sejawat, orang tua murid, guru BK maupun dapat dilakukan guru itu sendiri dengan pertanyaan- pertanyaan yang diberikan kepada murid. Pembelajaran berdiferensiasi sangat sesuai dengan filusufi tersebut karena dalam pembelajaran berdiferensiasi kebutuhan murid dalam belajarlah yang harus kita penuhi, sehingga kita dapat melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid.

Guru  penggerak adalah  pemimpin pembelajaran yang harus mampu membawa lingkungan untuk dapat melakukan perubahan- perubahan positif . Perubahan positif yang dapat dilakukan dengan Inquiri apresiatif dapat mempermudah kolaboratif guru dengan rekan sejawat. Inquiri Apresiatif sebagai sarana atau kendaraan untuk sebuah perubahan sehingga akan tercipta lingkungan positif dan lingkungan inilah yang akan kita gunakan unuk mewujudkan budaya positif. Apabila sekolah sudah menerapkan budaya positif atau budaya positif sudah berjalan dengan baik, inilah  yang akan mempermudah guru untuk memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan lingkungan belajar yang positif. Kita harus menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi murid agar dapat terpenuhi kebutuhan belajar mereka.


Jumat, 12 Agustus 2022

KONEKSI ANTAR MATERI _ VISI GURU PENGGERAK

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 

VISI GURU PENGGERAK

        Pada modul 1.3 yang membahas tentang Visi Guru Penggerak peserta di minta untuk mengaitkan materi- materi yang telah dipelajari denngan materi lain yang relevan ke dalam rencana manajemen perubahan yang menerapkan paradigma dan model Inkuiri Apresiatif.   Di bawah ini merupakan uraian tentang keterkaitan antar materi yang telah kami ambil sebagai sebuah kesimpulan.

Pembelajaran menurut filusofi Ki Hajar Dewantara, siswa bukan sebuah kertas putih yang bisa kita isi dengan warna dan tulisan sebagaimana yang kita inginkan. Siswa adalah pribadi merdeka yang memang sudah membawa kodratnya dan telah tertulis sebelumnya sebagai kodrat alam. Disinilah peran guru adalah menuntun agar siswa tidak salah dalam mengambil jalan untuk menjadi dirinya sendiri.

Profil Pelajar Pancasila merupakan kompetensi yang harus dimiliki peserta didik kita. Ada 6 karakter yang harus dimiliki peserta didik kita yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan berahklak mulia, berkebhinekaan tunggal, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Keenam karakter tersebut digunakan sebagai dasar dalam perubahan pada diri siswa. Perubahan akan terjadi dengan kolaborasi yang baik serta melibatkan semua warga sekolah dan masyarakat serta pemangku kepentingan di sekolah. Perubahan dimulai dari hal- hal kecil dan pembiasaan- pembiasaan yang sudah ada di sekolah.


Alur keterkaitan 

Nilai dan peran guru penggerak sebagai agen perubahan antar lain: menjadi pemimpin pembelajaran,menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi. Sementara nilai guru penggerak yang melekat antara lain: berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif.

Inkuiri Apresiatif dipergunakan dalam mewujudkan perubahan pada sebuah komunitas sekolah yang dapat memberdayakan kekuatan- kekuatan yang sudah dimilikinya. Cara pandang positif yang akan membuka lebar sebuah kolaborasi mendorong perubahan yang tertuang dalam sebuah  visi yang akan kita capai dapat  terwujud .Visi guru penggerak harus sejalan dengan filusufi Ki Hajar Dewantara, sebuah pembelajaran yang mengutamakan kepentingan murid. Visi seorang guru penggerak harus mencerminkan peran dan nilai guru penggerak yaitu mewujudkan ketercapaian profil pelajar pancasila yang menjadi kompetensi yang hendak dicapai oleh murid.

Kaitan antara peran  pendidik, profil pelajar pancasila dan paradigma Inkuiri Apresiatif. Pendidk merupakan subjek atau pelaku agen perubahan dalam dunia pendidikan yang memiliki target tercapainya kompetensi profil pelajar pancasila dan untuk mewujudkan sebuah perubahan dapat terwujud, pendidik menggunakan paradigm IA sebagai kendaraan. Peran IA digunakan oleh pendidik untuk melakukan ko-kreasi untuk melangkah maju dengan menggunakan asset atau nilai- nilai positif yang ada pada diri pendidik itu sendiri. Dalam sebuah perubahan diawali dengan pertanyaan- pertanyaan yang berangkat dari cara berfikir positif. Dalam hal ini BAGJA ( Buat Pertanyaan Utama, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, jabarkan rencana, dan atur eksekusi ) digunakan untuk mewujudkan kolaborasi yang apresiatif dan bermakna untuk kemajuan pendidikan. BAGJA merupakan prakarsa perubahan yang mengikuti pendekatan atau paradigmma Inkuiri Apresiatif.



    Rantau Pandan, 12 Agustus 2022

                        Penulis


Selasa, 09 Agustus 2022

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.2

Pembelajaran di kelas

Rangkaian kegiatan diklat yang sudah saya jalani dari materi modul 1.1 hingga modul 1.2 memberikan pengalaman berharga bagi saya. Saya menuangkan dalam model 4F untuk merefleksi diri saya selama mengikuti diklat ini hingga pembelajaran di modul 1.2.

1.    Facts ( Peristiwa )

Modul 1.1 memberikan pemahaman kepada peserta diklat tentang filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pemikiran KHD bahwa pendidkan diawali dari proses menuntun,  pendidikan yang menuntun untuk melahirkan generasi masa kini yang lebih solidaritas akan kebersamaan, kolaboratif dan menumbuhkan sikap gotong royong menjadi pribadi yang kritis, peka terhadap perubahan zaman untuk menyongsong masa depan yang humanis penuh dengan kasih sayang. Siswa menjadi manusia yang jujur , bersih hati untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.  Sesuai dengan pemikiran KHD akan tujuan pendidikan yaitu  menuntun segala kodrat yang ada pada anak- anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam modul 1.2 ada banyak materi yang dipaparkan  tentang nilai dan peran guru penggerak. Dimulai dari diri yaitu kita menggambarkan peta posisi diri dalam sebuah trapesium yang bisa dimaknai bagaimana proses diri dari sejak lahir . Di dalam trapezium juga dapat diketahui  hal- hal yang pernah kita alami di masa lalu. Materi yang disajikan dalam modul 1.2 sangat komplek dari system kerja otak, kebutuhan dasar manusia, profil pelajar pancasila, nilai dan peran guru penggerak.

 2.    Feeling ( Perasaan )

Banyak perasaan yang tergambar dari semua yang saya alami, secara teknis diklat yang saya ikuti banyak mengalami kendala terutama jaringan internet sangat tidak stabil. Selain itu sebuah penyesalan terhadap apa yang sudah saya lakukan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Semakin saya tahu tentang materi merdeka belajar semakin menyiratkan rasa berdosa bagi saya. Saya merasa bersalah dengan menargetkan anak dengan kriteria- kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya. Saya belum menyadari sepenuhnya bahwa siswa memiliki karakteristik yang berbeda- beda.

3.    Findings ( Pembelajaran )

Dalam modul 1.2 ada banyak materi yang dipaparkan  tentang nilai dan peran guru penggerak. Dimulai dari diri yaitu kita menggambarkan peta posisi diri dalam sebuah trapesium yang bisa dimaknai bagaimana proses diri dari sejak lahir . Di dalam trapezium juga dapat diketahui  hal- hal yang pernah kita alami di masa lalu.

Langkah kedua dari modul 1.2 adalah ekplorasi konsep. Eksplorasi konsep merupakan rangkain dari peta posisi diri. Dalam eksploras konsep peserta diajak untuk memahami keberadaan system otak  manusia serta teori- teori yang menjelaskan keterkaitan antara organ otak dengan cara pengambilan keputusan. Di samping itu peserta diajak untuk memahami nilai dan peran guru penggerak yang di targetkan menjadi guru masa depan untuk menciptakan profil pelajar pancasila.

Dalam ruang kolaborasi peserta diminta untuk berkolaborasi dalam kelompok menyelesaikan tugas mengenai kegiatan di sekolah yang berkaitan dengan nilai dan peran guru penggerak. Dari hasil masing- masing kelompok dipersentasikan untuk mendapatkan tanggapan dan saran  kelompok lain.

Demontrasi kontekstual modul 1.2 ini peserta diminta untuk memposisikan diri pada tiga tahun ke depan setelah jadi guru penggerak. Peserta diminta untuk membayangkan apa kegiatan yang dilakukan setelah menjadi guru penggerak. Hal ini posisi diri yang di bayangkan pada posisi di masa mendatang.

Elaborasi pemahaman peserta mendapatkan penguatan materi yang ada di eksplorasi konsep oleh instruktur. Dalam elaborasi pemahaman peserta di ajak untuk mengkaji ulang tentang nilai dan peran guru penggerak. Diulas kembali materi yang berkaitan dengan system kerja otak, profil pelajar pancasila, kebutuhan dasar manusia, nilai dan peran guru penggerak.

 

4.    Futrure ( Penerapan )

 

        Saya sangat berharap untuk sekarang dan  di masa mendatang saya dapat menerapkan pembelajaran :

1.    Pembelajaran yang menyenangkan, sehingga siswa yang duduk dihadapan saya bukan hanya siswa yang mau belajar dengan saya melainkan siswa yang juga harus saya mengerti kemauannya.

2.    Saya akan melakukan refleksi dalam setiap kegiatan yang saya lakukan terutama yang berkaitan dengan pembelajaran.

3.    Saya akan berusaha menyediakan media yang mudah dipahami olek siswa saya.

4.    Melakukan kolaborasi dengan tewan sejawat untuk menambah pemahaman tentang tugas saya sebagai pendidik.

5.    Saya akan aktif dalam komunitas praktisi yang dapat mendukung saya untuk lebih memahami dan memperbaiki kinerja sebagai pendidik.

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.a.8

Pengambilan Keputusan Berbasis  Nilai - nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin    “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka...