COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Dalam modul 2.3 diuraikan materi tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik. Coaching merupakan keterampilan kolaborasi yang baik antara coach dan coachee yang bertujuan untuk mengembangkan dan menggali potensi sedalam- dalamnya yang sebelumnya belum dimiliki atau sudah dimiliki oleh seorang coachee (Grant, 1999).. Chouching merupakan proses belajar yang berfokus pada penemuan solusi bagi permasalahan yang dihadapi coachee yang datang dari coachee itu sendiri.
Ada 4 paradigma
berfikir coaching antara lain: 1. Fokus pada coachee yang akan dikembangkan,2. Bersikap
terbuka dan ingin tahu, 3. Memiliki kesadaran diri yang kuat, 4. Mampu melihat
peluang baru di masa depan. Pada proses coaching menggunakan prinsip- prinsip
sebagai berikut :
- 1. Kemitraan
- 2. Proses kreatif
- 3. Memaksimalkan potensi
Sebelum saya
mempelajari modul ini saya berfikir bahwa coaching dilakukan oleh seorang yang
lebih senior kepada junior atau antara atasan dengan bawahan. Dalam pendidikan
saya mengenal coaching selama ini hanyalah kegiatan yang dilakukan berupa supervisi oleh kepala
sekolah kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Setelah saya mempelajari modul ini coaching
tidak harus diberikan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya melainkan
coaching dilakukan mendasari pada prinsip kemitraan yang mengutamakan
kesetaraan antara coach dengan coachee.
Adapun tantangan implementasi
coaching disekolah antara lain adalah
banyak diantara warga sekolah yang belum memahami bagaimana proses coaching
yang baik dan harus dilakukan di sekolah. Kebiasaan selama
ini supervisi akademik ( coaching
) hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam setahun itupun hanya menyangkut
supervisi tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau
guru senior di sekolah. Supervisi hanya
bersifat evaluasi dan tagihan kepala
sekolah terhadap kinerja guru- guruya.
Solusi untuk tantangan yang ada
antara lain adanya sosialisasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan
pemahaman coaching kepada warga sekolah. Dalam coaching seorang coach hanya
menekankan pada proses mendengar dan
sedikit bertanya untuk merangsang ide- ide yang bisa datang dari coachee. Dalam
hal ini dibutukan keterampilan komunikasi yang baik agar dapat meningkatkan
pemahaman tentang pentingnya coaching disekolah. Harus ada kolaborasi yang baik
dari setiap warga sekolah agar coaching tidak hanya menyangkut pembelajaran di
kelas saja namun juga permasalahan- permasahan di luar kelas yang dapat
diselesaikan dengan proses coaching.
Peran guru penggerak yang harus
dapat menjadi coach bagi guru lain / rekan sejawat mendorong kepedulian untuk
memperkenalkan hal- hal yang baru dipelajari dalam proses belajar selama ini.
Seoarang coach sangat diperlukan dalam membantu proses pembelajaran yang
berpihak pada murid sebab lebih menekankan pada temuan komitmen untuk mengambil
keputusan bertanggung jawab yang datang dari diri sendiri sehingga kesadaran
internal dapat terbentuk dan untuk kedepannya akan menjadi pribadi yang jauh
lebih baik .
Untuk kedepannya menerapkan coaching akan dilaksanakan dalam :
- 1. Pembelajaran bersama murid maupun rekan sejawat untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
- 2. Melaksanakan coaching tidak sebatas pada supervisi akademik setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran saja sebagaimana yang sudah berlaku disekolah selama ini diberlakukan di sekolah.
- 3. Tidak membatasi proses coaching hanya menyangkut pembelajaran di dalam kelas saja, namun juga masalah- masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di luar kelas maupun pekerjaan lain.
Emosi yang dirasakan selama
mempelajari materi ini antara lain: terpanggil untuk terus belajar dan berlatih
mendapatkan pemahaman yang lebih baik dalam proses coaching, tertantang untuk
mengimplementasikan pengetahuan tentang coaching dan mempraktikan coaching kepada
murid maupun rekan sejawat, Ingin selalu mengasah pemahaman tentang coaching
dengan kolaborasi bersama kepala sekolah dan rekan sejawat.
Yang sudah baik dan perlu
diperbaiki yaitu : 1. Mendapatkan pemahaman tentang coaching dan belajar mempraktikan
bersama rekan CGP, dengan bertukar peran dan diskusi untuk perbaikan lebih
lanjut, Yang masih perlu diperbaiki dalam berperan sebagai coach antara lain
dalam melakukan kalibrasi dan menemukan pertanyaan berbobot yang mampu
menggiring coachee menemukan solusi akan masalah yang dihadapi.
Keterkaitan terhadap kompetensi
dan kematangan diri pribadi: 1. Menambah pemahaman peran seorang
pendidik untuk dapat menjadi seseorang yang dapat mengoptmalkan kemampuan diri
2.Mengimplementasikan coaching di lingkungan sekolah maupun linkungan keluarga.
Adapun tantangan implementasi
coaching disekolah antara lain adalah
banyak diantara warga sekolah yang belum memahami bagaimana proses coaching
yang baik dan harus dilakukan di sekolah. Kebiasaan selama
ini supervisi akademik ( coaching
) hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam setahun itupun hanya menyangkut
supervisi tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau
guru senior di sekolah. Supervisi hanya
bersifat evaluasi dan tagihan kepala
sekolah terhadap kinerja guru- guruya.
Solusi untuk tantangan yang ada
antara lain adanya sosialisasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan
pemahaman coaching kepada warga sekolah. Dalam coaching seorang coach hanya
menekankan pada proses mendengar dan
sedikit bertanya untuk merangsang ide- ide yang bisa datang dari coachee. Dalam
hal ini dibutukan keterampilan komunikasi yang baik agar dapat meningkatkan
pemahaman tentang pentingnya coaching disekolah. Harus ada kolaborasi yang baik
dari setiap warga sekolah agar coaching tidak hanya menyangkut pembelajaran di
kelas saja namun juga permasalahan- permasahan di luar kelas yang dapat
diselesaikan dengan proses coaching.
Keterkaitan materi coaching untuk
supervisi akademik dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu keduanya sama-
sama bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam
pembelajaran berdiferensiasi yang menitik beratkan pada pemenuhan
kebutuhan belajar murid berdasarkan minat murid, kebutuhan belajar
murid dan profil murid. Dalam melakukan pemetaan kebutuhan belajar terkadang
guru menemukan berbagai masalah , sorang guru bisa memanfaatkan proses coaching
dalam menemukan solusi akan permasalahan tersebut. Peran coaching sangat
diperlukan dalam pembelajaran berdiferansiasi.
Keterkaitan antara materi
coaching untuk supervisi akademik dengan pembelajaran social emosional yaitu
pada proses yang sama- sama membutuhkan ketenangan, kenyamanan dan tidak terburu- buru. Peran pembelajaran
social emosional dapat membantu coach menjadi pendengar yang aktif dan tetap
focus pada coachee sementara bagi seorang coahee pembelajaran social emosional
dapat membuat dirinya dalam posisi tenang untuk membantu dirinya memunculkan
ide- ide baru dalam mencari solusi akan permasalahan yang sedang dihadapinya
dan menemukan keputusan yang bertanggung jawab. Dalam KSE yang mencakup kesadaran
diri, kesadaran social, pengelolaan diri, keterampilan berelasi dan pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab sangat bermanfaat bagi seoaran coach dan
coachee saat melakukan coaching.
Menurut Ki Hajar
Dewantara bahwa pendidikan adalah menuntun tumbuhnya dan hidupnya kekuatan
kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Seorang pendidik dapat
memanfaatkan keterampilann coaching untuk membantu murid dalam mencapai
keselamatan dan kebahagian sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Proses
coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid
dibebaskan untuk menemukan kekuatan diringaya sementara peran guru adalah
sebagai pamong yang mendampingi murid dalam memberi tuntunan dan memberdayakan
potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan –
kekuatan dirinya yang tidak akan membayakan bagi dirinya sendiri. Sistem among
yaitu Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo mangun Karsa, Tut Wuri Handayani
menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan
menggunakan pendekatan coaching.
Oktober 2022
Penulis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar