Sabtu, 08 Oktober 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3.a.8


 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK


  Sumber: Foto Pribadi

Dalam modul 2.3 diuraikan materi tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik. Coaching merupakan keterampilan kolaborasi yang baik antara coach dan coachee yang bertujuan untuk mengembangkan dan menggali potensi sedalam- dalamnya yang sebelumnya belum dimiliki atau sudah dimiliki oleh seorang coachee (Grant, 1999).. Chouching merupakan proses belajar yang berfokus pada penemuan solusi bagi permasalahan yang dihadapi coachee yang  datang dari coachee itu sendiri.

Ada 4 paradigma berfikir coaching antara lain: 1. Fokus pada coachee yang akan dikembangkan,2. Bersikap terbuka dan ingin tahu, 3. Memiliki kesadaran diri yang kuat, 4. Mampu melihat peluang baru di masa depan. Pada proses coaching menggunakan prinsip- prinsip sebagai berikut  :

  • 1.       Kemitraan
Dalam coaching kedudukan antara coach dengan coachee adalah setara tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Adanya penyetaraan antara coach dengan coachee memberikan peluang untuk mencipptakan komunikasi yang terbuka dan eksploratif.
  • 2.       Proses kreatif
Melalui percakapan dua arah coaching yang dapat memicu proses berfikir coachee dan memetakan dan menggali situasi coachee  untuk menghasilkan atau memunculkan  ide- ide baru yang berguna bagi dirinya.
  • 3.       Memaksimalkan potensi
Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan, yang paling mungkin dilakukan dan paling besar kemungkinan berhasilnya. Selain itu juga, percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh rekan yang sedang dikembangkan. Kompetensi inti yang harus ada dalam coaching adalah : Kehadiran penuh ( presence ) , Mendengarkan aktf , Mengajukan pertanyaan berbobot. Rangkaian kompetensi dalam proses coaching menggunakan alur percakapan TIRTA yang terdiri dari, Tujuan, Indentifikasi, Rencana aksi dan Tanggung jawab.

Sebelum saya mempelajari modul ini saya berfikir bahwa coaching dilakukan oleh seorang yang lebih senior kepada junior atau antara atasan dengan bawahan. Dalam pendidikan saya mengenal coaching selama ini hanyalah kegiatan  yang dilakukan berupa supervisi oleh kepala sekolah kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas.  Setelah saya mempelajari modul ini coaching tidak harus diberikan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya melainkan coaching dilakukan mendasari pada prinsip kemitraan yang mengutamakan kesetaraan antara coach dengan coachee.

Adapun tantangan implementasi coaching disekolah antara lain  adalah banyak diantara warga sekolah yang belum memahami bagaimana proses coaching yang baik dan harus dilakukan di sekolah. Kebiasaan  selama  ini supervisi akademik  ( coaching ) hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam setahun itupun hanya menyangkut supervisi tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru senior di sekolah.  Supervisi hanya bersifat evaluasi  dan tagihan kepala sekolah terhadap kinerja guru- guruya.

Solusi untuk tantangan yang ada antara lain adanya sosialisasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman coaching kepada warga sekolah. Dalam coaching seorang coach hanya menekankan pada proses mendengar  dan sedikit bertanya untuk merangsang ide- ide yang bisa datang dari coachee. Dalam hal ini dibutukan keterampilan komunikasi yang baik agar dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya coaching disekolah. Harus ada kolaborasi yang baik dari setiap warga sekolah agar coaching tidak hanya menyangkut pembelajaran di kelas saja namun juga permasalahan- permasahan di luar kelas yang dapat diselesaikan dengan proses coaching.

Peran guru penggerak yang harus dapat menjadi coach bagi guru lain / rekan sejawat mendorong kepedulian untuk memperkenalkan hal- hal yang baru dipelajari dalam proses belajar selama ini. Seoarang coach sangat diperlukan dalam membantu proses pembelajaran yang berpihak pada murid sebab lebih menekankan pada temuan komitmen untuk mengambil keputusan bertanggung jawab yang datang dari diri sendiri sehingga kesadaran internal dapat terbentuk dan untuk kedepannya akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik .

Untuk kedepannya  menerapkan coaching akan dilaksanakan dalam :

  • 1.       Pembelajaran bersama murid maupun rekan sejawat untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
  • 2.       Melaksanakan coaching tidak sebatas pada supervisi akademik setiap akhir semester atau akhir  tahun ajaran saja sebagaimana yang sudah berlaku disekolah selama ini diberlakukan di sekolah.
  • 3.       Tidak membatasi proses coaching hanya menyangkut pembelajaran di dalam kelas saja, namun juga masalah- masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di luar kelas maupun  pekerjaan lain.

Emosi yang dirasakan selama mempelajari materi ini antara lain: terpanggil untuk terus belajar dan berlatih mendapatkan pemahaman yang lebih baik dalam proses coaching, tertantang untuk mengimplementasikan pengetahuan tentang coaching dan mempraktikan coaching kepada murid maupun rekan sejawat, Ingin selalu mengasah pemahaman tentang coaching dengan kolaborasi bersama kepala sekolah dan rekan sejawat.

Yang sudah baik dan perlu diperbaiki yaitu : 1. Mendapatkan pemahaman tentang coaching dan belajar mempraktikan bersama rekan CGP, dengan bertukar peran dan diskusi untuk perbaikan lebih lanjut, Yang masih perlu diperbaiki dalam berperan sebagai coach antara lain dalam melakukan kalibrasi dan menemukan pertanyaan berbobot yang mampu menggiring coachee menemukan solusi akan masalah yang dihadapi.

Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi: 1. Menambah pemahaman peran seorang pendidik untuk dapat menjadi seseorang yang dapat mengoptmalkan kemampuan diri 2.Mengimplementasikan coaching di lingkungan sekolah maupun linkungan keluarga.

                                                                        Sumber: Foto Pribadi

Adapun tantangan implementasi coaching disekolah antara lain  adalah banyak diantara warga sekolah yang belum memahami bagaimana proses coaching yang baik dan harus dilakukan di sekolah. Kebiasaan  selama  ini supervisi akademik  ( coaching ) hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam setahun itupun hanya menyangkut supervisi tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru senior di sekolah.  Supervisi hanya bersifat evaluasi  dan tagihan kepala sekolah terhadap kinerja guru- guruya.

Solusi untuk tantangan yang ada antara lain adanya sosialisasi yang harus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman coaching kepada warga sekolah. Dalam coaching seorang coach hanya menekankan pada proses mendengar  dan sedikit bertanya untuk merangsang ide- ide yang bisa datang dari coachee. Dalam hal ini dibutukan keterampilan komunikasi yang baik agar dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya coaching disekolah. Harus ada kolaborasi yang baik dari setiap warga sekolah agar coaching tidak hanya menyangkut pembelajaran di kelas saja namun juga permasalahan- permasahan di luar kelas yang dapat diselesaikan dengan proses coaching.

Keterkaitan materi coaching untuk supervisi akademik dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu keduanya sama- sama bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi yang menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan  belajar murid  berdasarkan minat murid, kebutuhan belajar murid dan profil murid. Dalam melakukan pemetaan kebutuhan belajar terkadang guru menemukan berbagai masalah , sorang guru bisa memanfaatkan proses coaching dalam menemukan solusi akan permasalahan tersebut. Peran coaching sangat diperlukan dalam pembelajaran berdiferansiasi.

Keterkaitan antara materi coaching untuk supervisi akademik dengan pembelajaran social emosional yaitu pada proses yang sama- sama membutuhkan ketenangan, kenyamanan  dan tidak terburu- buru. Peran pembelajaran social emosional dapat membantu coach menjadi pendengar yang aktif dan tetap focus pada coachee sementara bagi seorang coahee pembelajaran social emosional dapat membuat dirinya dalam posisi tenang untuk membantu dirinya memunculkan ide- ide baru dalam mencari solusi akan permasalahan yang sedang dihadapinya dan menemukan keputusan yang bertanggung jawab. Dalam KSE yang mencakup kesadaran diri, kesadaran social, pengelolaan diri, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sangat bermanfaat bagi seoaran coach dan coachee saat melakukan coaching.

Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah menuntun tumbuhnya dan hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Seorang pendidik dapat memanfaatkan keterampilann coaching untuk membantu murid dalam mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid dibebaskan untuk menemukan kekuatan diringaya sementara peran guru adalah sebagai pamong yang mendampingi murid dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan – kekuatan dirinya yang tidak akan membayakan bagi dirinya sendiri. Sistem among yaitu Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo mangun Karsa, Tut Wuri Handayani menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching.

Oktober 2022

Penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.a.8

Pengambilan Keputusan Berbasis  Nilai - nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin    “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka...