Senin, 24 Oktober 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.a.8

Pengambilan Keputusan Berbasis 
Nilai - nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin 

 “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka 
yang berharga / utama itu lebih baik. “

( Teaching kids the count is fine but teaching them what counts is best )

Bob Talbert

 Menurut saya kaitan kutipan diatas dengan proses pembelajaran saat ini adalah dilema etika antara pencapaian atau ketercapaian kemampuan akademik dengan penanaman karakter pada anak itu sendiri, bagaimana nilai- nilai kebajikan universal dapat merasuk ke diri anak didik kita.

Nilai atau prinsip yang saya pegang dalam pengambilan keputusan adalah rasa tanggung jawab dari keputusan yang saya ambil dan sedapat mungkin keputusan tersebut memberikan dampak positif bagi anak didik saya dan dapat menyamakan pendapat dari berbagai pihak sehingga meminimalkan terjadinya pertentangan .

Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus dapat menuntun anak murid kita untuk menebalkan garis pada diri mereka sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Dalam pengambilan keputusan pemimpin pembelajaran harus dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Menurut saya, pembelajaran modul ini telah memberikan pembelajaran tentang keterampilan pengambilan keputusan yang mendasari pada nilai- nilai kebajikan universal. Pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma , 3prinsip  serta 9 langkah- langkah pemgambilan dan pengujian keputusan. Yang mesti diimplemaentaskan dalam setiap pengambilan keputusan agar didapat keputusan yang bijak dan berpihak pada murid. 

Uraian Dari Pertanyaan Pemantik

Filosofi Pratap Triloka yang terdiri dari  ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh besar dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ki Hajar Dewantara berpandangan bahwa sebagai seorang guru, harus dapat  memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Pratap Triloka ing madyo mangun karsa, dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Pratap Triloka Tut Wuri Handayani memaknai bahwa guru adalah pamong yang menuntun murid untuk mencapai kebahagiaan sebagai umat manusia dan sebagai anggota masyarakat.

Seorang pemimpin pembelajaran semestinya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid dan mendorong pendididk untuk dapat mengambil keputusan secara tepat. Nilai-nilai positif tersebut antara lain mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai ini merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir cermat untuk mengambil keputusan yang benar.

        Materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang penyelesaiannya datang dari coachee itu sendiri. Dengan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA yang disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan akan menghasilkan keputusan yang lebih bertanggung jawab. 

        Kompetensi sosial emosional sangat diperlukan agar guru atau pemimpin pembelajaran dapat fokus dan melakukan kesadaran penuh dalam mengontrol dirinya, memberikan pembelajaran sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang berpihak pada murid, tanggung jawab dan mengandung nilai- nilai kebajikan. Dalam pengambilan keputusan tentang dilema etika kompetensi sosial emosional sangat berguna dalam membantu pengambilan keputusan yang jauh lebih berpihak pada murid.  Dengan keberagaman karakteristik yang dimiliki masing - masing murid maka seorang pemimpin pembelajaran harus dapat mengambil keputusan agar pembelajaran menyenangkan dan dapat memenuhi gaya belajar masing- masing murid.

Seorang pendidik kerap kali dihadapkan pada kasus-kasus atau masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak sadar pengambilan keputusan akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Jika nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai kebajikan universal maka keputusan yang diambil akanlebih bijak dan dapat dipertanggung jawabkan Nilai-nilai yang dianut harus sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma sehingga keputusan yang diambilnya lebih sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang harus dimiliki oleh guru adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

        Pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika kita dapat mengidentifikasi masalah masalah apakah kasus tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Apabila kasus yang kita hadapi adalah bujukan moral maka wajib bagi kita tetap mempertahankan sebuah kebenaran, namun apabila kasus yang kita hadapi adalah sebuah dilema etika maka diperlukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah, maka keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang dapat membela sebagian banyak orang sehingga lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat tercipta.

        Tantangan-tantangan yang saya hadapi di lingkungan sekolah saya untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terkait dengan perubahan paradigma dan budaya positif di sekolah yang implementasinya masih banyak kekurangan karena lebih terpaku pada budaya lama yang seharusnya sudah kita rubah jauh hari. Posisi kontrol dan budaya  restitusi juga coaching belum semua warga sekolah dapat langsung menerima pemahaman ini. Tantangan waktu penerapan yang masih perlu di upayakan secara terus- menerus agar seluruh warga sekolah menyadari bahwa pendidikan yang kita selenggarakan harus berpihak sepenuhnya pada murid. Warga sekolah juga perlu memiliki pemahaman tentang tanggung jawab akan keputusan yang sudah diambil.

        Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid dimaksudkan bahwa segala keputusan harus berpihak pada kebutuhan murid dalam belajar. Seorang pemimpin pembelajaran harus dapat memberi peluang seluas- luasnya terhadap murid agar mereka dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki.  Tugas seorang guru hanya memfasilitasi pembelajaran agar seluruh murid dapat menikmati pembelajaran sesuai bakat dan minat yang mereka miliki. Hal ini dibutuhkan guru yang memiliki keterampilan yang baik dan teknik pengambilan keputusan dalam merancang pembelajaran sesuai profil belajar murid.

        Apabila guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah memerdekakan dan berpihak pada  murid  dalam setiap pengambilan keputusan, maka pada dasarnya guru telah melakukan penebalan garis pada diri murid itu sendiri. Kodrat alam setiap murid yang berbeda- beda dengan pelayanan yang sesuai kebutuhan mereka dapat meningkatkan percaya diri pada murid sehingga mereka akan berkembang menjadi pribadi sesuai dengan apa yang mereka minati. Hal ini akan semakin memperkuat kreatifitas mereka sehingga memiliki daya lenting yang kuat. Figur masa depan yang mereka inginkan dapat mereka capai dengan kesadaran yang penuh sebab apa yang ingin ia raih sesuai dengan keinginan dan kesenangan mereka.  Perlunya pembelajaran yang berdiferensiasi harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin pembelajaran di kelas atau di sekolah. Dengan pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang memerdekakan dan berpihak pada murid.

 Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya yaitu: 

  • Keterkaitan dengan Filosofi KHD dengan sistem among yang menuntun kodrat anak sehingga pengambilan keputusan harus berpihak pada murid dan mengantarkan pada terciptanya profil pelajar Pancasila, belajar dengan merdeka dalam lingki]ungan yang aman dan nyaman.
  • Keterkaitan dengan penerapan budaya positif bahwa pengambilan keputusan dengan penerapan BAGJA dengan pendekatan Inkuiry Apresiatif yang membantu terwujudnya lingkunga yang aman dan nyaman bagi seluruh murid mendorong terjadinya interaksi yang positif antar warga sekolah
  • Keterkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu pengambilan keputusan semestinya harus dapat diambil oleh setiap pemimpin pembelajaran tentang bagaimana ia  merancang pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pemilihan metode dan media yang tepat.
  • Keterkaitan dengan pembelajaran sosial emosional , pengambilan keputusan harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh atau mindfulnes agar keputusan yang di dapatkan adalah sebuah keputusan yang berkualitas sebab pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan tenang  tanpa disertai emosi.
  • Keterkaitan dengan Coaching, bahwa dalam pengambilan keputusan diperlukan keterampilan coaching dengan menggunakan alur TIRTA agar identifikasi terhadap permasalahan dan penemuan solusi dari masalah itu sendiri sebagaimana yang memang diperlukan.

            Pemahaman saya tentang Dilema Etika (benar lawan  benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih satu diantara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi saling bertentangan. Sedangkan Bujukan Moral (benar lawan salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. 

        Dalam perjalanannya ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan agar keputusan yang diambil berpihak pada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

        Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yaitu : 

  1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

    Dalam dilema etika juga dikenal 3 Prinsip pengambilan keputusan yaitu: 

  1. Berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based thinking) di tentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan. 
  2. Berpikir berbasis peraturan (Rule based thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat 
  3. Berpikir berbasis rasa peduli (Care based thinking) prinsipnya "Lakukan kepada orang lain seperti yang anda ingin mereka lakukan kepada anda". Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan simpati.
Selain 4 Paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan ada juga 9 langkah dalam pengambilan dan Pengujian keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai kebajikan universal yang saling bertentangan. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan Langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan. Jangan langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. 
  1. Langkah pertama dalam mengambil keputusan adalah dengan mengenali nilai – nilai yang saling bertentangan. 
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam kasus yang mengandung dilema etika.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan. Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail.
  4. Pengujian benar atau salah dalam pengujian dan pengambilan keputusan
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi opsi trilema 
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
        Pengambilan keputusan yang merupakan dilemma etika sering dialami oeh setiap guru sebagai pemimpin pembelajaran, demikian juga saya yang kerap kali ditemukan pada permaslahan yang harus menentukan pilihan yang sama- sama benar. Namun dalam pengambilan keputusan selama ini belum mempertimbangkan paradigma, prinsip dan langkah- langkah pengambilan keputusan karena batas pengetahuan saya yang belum sampai disitu.. Meski saya sudah mempertimbangkan nilai- nilai kebajikan dalam sebuah pengambilan keputusan. Namun setelah saya memahami 4 paradigma , 3 prinsip dan 9 langkah- langkah dalam pengambilan keputusan saya mendasarkan bahwa pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, mengandung nilai – nilai kebajikan dan sebuah keputusan yang harus bertanggung jawab.

Dampak mempelajari modul ini dalam pengambilan keputusan menjadikan kita lebih hati- hati dalam mengidentifikasi sebuah masalah atau kasus serta berpegang teguh  pada nilai- nilai kebajikan universal yang menjadikan kita sebagai pemimpin pembelajaran yang bijaksana dalam pengambilan keputusan. Merefleksi kembali apakah keputusan yang kita ambil sudah tepat dan berpihak pada sebagian banyak orang ataukah keputusan yang kita ambil belum mewakili suara dan kebutuhan banyak orang. 

Sebelum mempelajari modul ini dalam mengambil keputusan yang saya lakukan yaitu  dengan mengidentifikasi permasalahan dan menyelesaikan secara muyawarah tanpa melakukan langkah- langkah pengambilan keputusan. Setelah mempelajari modul ini saya melakukan pengambilan keputusan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian terlebih dahulu sebelum keputusan tersebut diambil, apabila sebuah keputusan yang kita ambil sudah lolos dalam pengujian maka keputusan tersebut dapat diambil atau dilaksanakan hal ini dilakukan untuk meminimalkan resiko yang mungkin terjadi dari keputusan yang telah kita ambil atau sepakati.

Sebagai seorang individu keterampilan mengambil keputusan yang saya pelajarai dalam modul ini memberikan pengetahuan secara khusus tentang konsep serta langkah- langkah dalam pengambilan keputusan yang dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari- hari. Keterampilan pengambilan keputusan dapat saya asah dari modul ini.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran sangatlah dibutuhkan keterampilan pengambilan keputusan oleh karena itu modul ini sangatlah membantu kita akan  pemahaman bahwa seorang pemimpin pada setiap saat ada permasalahan yang harus diselesaikan secara bijak. Modul ini telah membantu saya dalam meningkatkan keterampilan untuk pengambilan dan pengujian keputusan yang berupa dilema etika maupun bujukan moral. Saya lebih yakin dan mantap dalam setiap pengambilan keputusan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.a.8

Pengambilan Keputusan Berbasis  Nilai - nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin    “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka...