Senin, 12 September 2022

AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

KEYAKINAN KELAS SEBAGAI PENERAPAN BUDAYA POSITIF


                                                                 Sumber Foto Pribadi

          Untuk itu penerapan budaya positif tidak bisa meninggalkan peran seorang guru yang harus mampu menjadi agen perubahan dalam ekosistem sekolah. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat memberikan tantangan tersendiri  bagi guru karena murid  yang dihadapi adalah generasi yang penuh dengan keterbukaan. Begitu mudah budaya luar masuk dan diadaptasi oleh murid- murid kita. Hal ini menuntut kita untuk dapat mengarahkan murid agar tetap mempertahankan budaya yang sesuai dengan khasanah Pancasila.

        Dari pengertian budaya positif yaitu nilai- nilai, keyakinan- keyakinan dan kebiasaan- kebiasaan disekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan tanggung jawab.Oleh karena itu penerapan budaya positif diawali dari hal- hal yang sifatnya kecil dan sederhana. Itulah alasan mengapa keyakinan kelas dibuat untuk membawa murid- murid kita menerapkan budaya positif yang dimulai dari lingkup kelas.

            Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara  akan “ tujuan pendidikan yaitu  menuntun segala kodrat yang ada pada anak- anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”. Jadi salah satu tindakan menuntun adalah mengarahkan agar murid- murid kita dapat memiliki motivasi yang lahir dari dalam diri mereka untuk dapat mengontrol tindakan maupun prilaku mereka sehari- hari.

            Untuk dapat menerapkan budaya positif di sekolah kita tidak dapat menempuh dengan cara instan, kita mulai dari hal- hal kecil untuk dimaknai oleh murid sebagai pedoman bertindak dan bertingkah laku. Untuk mengarahkan murid mewujudkan budaya positif disekolah  kita memulai dari pembuatan keyakinan kelas. Keyakinan kelas merupakan kesepakatan yang dibuat atau diusulkan oleh seluruh siswa di kelas untuk disepakati bersama sebagai keyakinan kelas. Kesepakatan tersebut dibuat oleh siswa dengan pengawasan dan panduan dari guru. Setiap siswa diberikan hak yang sama dalam membuat kesepatan bersama.

          Demikian yang dilakukan di SMPN 1 Rantau Pandan, untuk memulai penerapan budaya positif dengan membuat kesepakatan atau keyakinan kelas terlebih dahulu. Langkah- langkah yang ditempuh antara lain:

  • Guru mengenalkan budaya positif kepada murid, dan pentingnya keyakinan kelas yang akan dibuat.
  • Guru mengarahkan murid bahwa keyakinan yang akan mereka buat bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan pembelajaran.
  • Guru memimpin dan memantau murid dalam membuat kesepakatan.
  • Semua murid mendapatkan kesempatan yang sama dalam menuangkan ide ataugagasan.
  • Mendiskusikan dan umpan balik terhadap kesepakatan dari masing- masing murid.
  • Jika sudah mendapatkan kata sepakat dan murid memahami konskensi dari pelanggaran terhadap kesepakatan yang mereka buat bersama.
  • Semua murid menandatangani hasil kesepakatan yang akan dilaksanakan di kelas mereka, sebagai bentuk rasa tanggung jawab untuk pelaksanaannya.

2.     


    Sumber: Foto Pribadi

Sumber: Foto Pribadi
                                                                                                                                   

        Kesepakatan yang sudah dihasilkan dan dituliskan dalam kertas sticky notes atau yang lainnya kemudian diseleksi bersama, untuk menentukan hal- hal  yang bisa disepakati dan mana yang tidak bisa disepakati. Hasil kesepakatan bersama kemudian dijadikan sebuah keyakinan oleh seluruh warga kelas. Setiap murid  menandatangani keyakinan kelas yang telah mereka buat sebagai sebuah pertanggungjawaban mereka akan apa- apa yang sudah mereka putuskan secara bersama. Keyakinan kelas akan dijadikan pedoman bertindak dan bertingkah laku sebagai acuan semua warga kelas.

        Berangkat dari keyakinan kelas tersebut budaya positif sekolah diwujudkan perlahan- lahan. Murid digiring untuk melakukan pembiasaan- pembiasaan atau menerapkan nilai- nilai positif dalam lingkup kecil terlebih dahulu yaitu kelas. Setelah hal ini diterapkan dengan baik di masing- masing kelas maka secara tidak langsung budaya positif di sekolah dapat terwujud. Selain itu keterlibatan  seluruh warga sekolah sangat diperlukan untuk mewujudkan budaya positif ini. Oleh karena itu warga sekolahpun juga harus mendapatkan pemahaman tentang budaya positif yang akan diterapkan di sekolah.


  Sosialisasi Budaya Positif di SMPN 1 Rantau Pandan
   Sumber: https://youtu.be/QqYTk_7OW4w


Jumat, 09 September 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1.a.8

 

MEMENUHI KEBUTUHAN MURID DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI



Untuk dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi sangat diperlukan keterampilan seorang guru untuk mengatur jalannya pembelajaran yang membawa murid dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Pembelajaran berdiferensiasia adalah suatu strategi yang dilakukan guru dengan tujuan memenuhi kebutuhan murid yang beragam dan mendorong murid untuk belajar. Konsep dasar Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. ( Tomlinson 2001)

Keputusan – keputusan yang diambil tersebut adalah:

1.      Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas

2.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.

3.  Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi

4.      Manajemen kelas yang efektif. 

5.      Penilaian berkelanjutan

Hal- hal yang perlu diketahui dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas antara lain:

  • Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif, Cara penerapan pembelajaran berdiferensiasi guru harus proaktif dalam merencanakan pembelajaran dikelas dengan asumsi bahwa murid memiliki kebutuhan yang berbeda- beda. Setidaknya guru harus memfasilitasi sebagian besar dari jumlah murid yang ia ampu.
  • Pembelajaran Berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif, dalam segi penugasan tidak mengutamakan diferensiasi jumlah namun lebih menonjolkan kwalitas dari pembelajaran.
  • Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian, yang dilakukan guru dari awal pembelajaran, pada proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Penilaian digunakan oleh guru untuk mengambil keputusan dalam menentukan strategi pembelajaran dan perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.
  • Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk. Dengan membedakan ketiga elemen ini, guru menawarkan pendekatan berbeda terhadap apa yang dipelajari murid, bagaimana mereka mempelajarinya, dan bagaimana mereka menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. 
  • Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid,  pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman sebelumnya — dan bahwa tidak semua murid memiliki fondasi belajar yang sama pada awal proses pembelajaran.
  • Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual, Pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh irama berulang dari melakukan persiapan kelas, mengulas kembali, dan berbagi, yang kemudian diikuti oleh kesempatan untuk eksplorasi, ekstensi (pendalaman materi), dan produksi (menghasilkan pekerjaan) individu atau kelompok kecil.
  • Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis, Guru memantau kecocokan antara kebutuhan murid dan proses pembelajaran mereka serta membuat penyesuaian sebagaimana diperlukan.   

3.                Langkah awal yang harus dilakukan guru di dalam kelas adalah memahami apa saja yang dibutuhkan murid kemudian melakukukan penilaian untuk  memetakan kebutuhan murid terlebih dahulu, dilanjutkan menentukan strategi kreatif dan proaktif yang harus diambil guru agar murid mendapatkan konten yang dia butuhkan , melakukan proses belajar yang tidak menyulitkan dan menghasilkan produk berupa hasil pemahaman akan  pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan profilnya.

Pemetaan yang dilakukan guru meliputi:

1.      Kesiapan belajar ( Readnes )

Kesiapan belajar meliputi tingkat kemampuan murid memahami keterampilan baru, pemahaman terhadap konten dan konsep baru. Terlepas dari tingkat intelejensi murid namun apakah tingkat pemahaman yang sudah dimiliki murid sesuai dengan pengetahuan maupun keterampilan yang akan diajarkan oleh guru.

2.      Minat belajar murid ( Interest )

Dalam memetakan minat belajar murid guru harus mempertimbangkan apa yang menjadi hobi, apa yang menjadi kesuakan dan apa yang tidak disukai oleh murid itu sendiri. Murid dapat menggunakan ide dan keterampilan yang ia miliki untuk mempelajari ide dan keterampilan baru , murid merasa  memiliki kecocokan antara sekolah dan kecintaannya sehingga dapat meningkatkan motivasi dalam belajar. Minat merupakan salah satu motivator penting bagi murid untuk terlibat aktf dalam proses pembelajaran.

3.      Profil belajar murid

Profil belajar murid berkaitan dengan lingkungan,  pengaruh budaya ( pendiam ekspresif,personalsantai , dll ), dan gaya belajar yang paling nyaman murid lakukan antara lain visual, auditori dan kinestetik. Selain itu adanya prefensi kecerdasan majemuk yang juga harus diperhatikan oleh guru dalam memetakan kebutuhan belajar murid- muridnya. Pemetaan yang berdasar pada profil belajar murid ini bertujuan untuk memudahkan murid belajar secara natural dan efisien.

Ada  3 strategi yang digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu :

1.       Diferensiasi konten

2.       Difernsiasi proses

3.       Diferensiasi produk

Adapun langkah yang harus diambil guru untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi antara lain :

a.       Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh murid

b.      Memetakan kebutuhan murid

c.       Melakukan strategi diferensiasi

d.      Melaksanakan penilaian ( assement ).



Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pembelajaran harus berpihak pada anak, dalam pendidikan seorang pendidik harus menyesuaikan pembelajaran yang diselenggarakan, bagaimana cara memberikan pelajaran, metode apa yang akan digumakan dan seperti apa perlakuan guru terhadap murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman mereka. Sebelum pembelajaran dimulai guru harus melakukan pemetaan kebutuhan murid dengan melakukan diagnostik seperti survai , wawancara, yang boleh melibatkan rekan sejawat, orang tua murid, guru BK maupun dapat dilakukan guru itu sendiri dengan pertanyaan- pertanyaan yang diberikan kepada murid. Pembelajaran berdiferensiasi sangat sesuai dengan filusufi tersebut karena dalam pembelajaran berdiferensiasi kebutuhan murid dalam belajarlah yang harus kita penuhi, sehingga kita dapat melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid.

Guru  penggerak adalah  pemimpin pembelajaran yang harus mampu membawa lingkungan untuk dapat melakukan perubahan- perubahan positif . Perubahan positif yang dapat dilakukan dengan Inquiri apresiatif dapat mempermudah kolaboratif guru dengan rekan sejawat. Inquiri Apresiatif sebagai sarana atau kendaraan untuk sebuah perubahan sehingga akan tercipta lingkungan positif dan lingkungan inilah yang akan kita gunakan unuk mewujudkan budaya positif. Apabila sekolah sudah menerapkan budaya positif atau budaya positif sudah berjalan dengan baik, inilah  yang akan mempermudah guru untuk memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan lingkungan belajar yang positif. Kita harus menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi murid agar dapat terpenuhi kebutuhan belajar mereka.


KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.a.8

Pengambilan Keputusan Berbasis  Nilai - nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin    “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka...