Refleksi
Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Sebagian
besar guru merasa sudah melakukan hal yang dianggap perlu dan penting dalam
proses pembelajaran. Menarik perhatian siswa dalam belajar, penekanan disiplin
yang kuat, penghargaan atau apresiasi yang diperlukan dan sistem pembelajaran
di kelas dengan menggunakan langkah- langkah pembelajaran yang sitematis.
Ketercapaian
KKM juga sering dianggap keberhasilan seorang guru dalam mengajar. Namun ada
satu sisi yang kadang kita memberikan pelajaran secara tidak adil. Mengingat
siswa kita adalah makhluk hidup yang memiliki sifat dinamis juga karakteristik
siswa yang beraneka ragam tentunya tidak bisa kita samakan satu dengan lainnya.
Masing masing siswa memiliki latar belakang dan kemampuan kognitif yang berbeda-
beda.
Banyak hal
lain yang harus disadari akan praktik kurang tepat dalam pembelajaran.
Dengan maksud menegakkan disiplin sekolah terkadang ditempuh dengan cara yang
kurang sesuai dengan maksud dari pendidikan itu sendiri. Cara- cara yang kurang
tepat ini sudah melanggar hak anak untuk
berkembang sesuai jati dirinya. Secara tidak langsung hal seperti ini membatasi
perkembangan siswa untuk menjadi seseorang yang mereka kehendaki. Hal ini telah
menunjukkan sebuah kenyataan bahwa anak belum merdeka dalam belajarnya.
Perwujudan dari MERDEKA belajar yang dimaksud adalah langkah – langkah
pemebelajaran sebagai berikut:
1.
Mulai
dari diri
2.
Eksplorasi
konsep
3.
Ruang
Kolaborasi
4.
Demonrtasi
kontekstual
5.
Elaborasi
kelompok
6.
Koneksi
antar materi
7.
Aksi
nyata
Pemikiran tentang merdeka belajar yang dimaksud bertujuan
untuk memberi kebebasan seluas- luasnya bagi siswa untuk mengekploitasi
kemampuannya. Disini peran guru adalah mengawal dan membimbing siswa untuk
mencapai tujuan yang hendak dicapai siswa tersebut. Pemikiran ini seiring dengan
filosofi Ki Hajar Dewantara, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa. Peran
guru adalah menuntun siswa untuk menebalkan laku agar siswa tidak
mendapatkan pengaruh negatif dari lingkungan dimana dia tinggal. Penebalan laku
anak yang tidak keluar dari konteks sosio kultural budaya akan mempermudah siswa
memahami akan jati dirinya. Sosial budaya menjadi salah satu pedoman dalam
pembelajaran siswa. Penebalan laku anak juga berdasarkan konteks dari diri anak
itu sendiri.
Siswa bukan sebuah
kertas putih yang bisa kita isi dengan warna dan tulisan sebagaimana yang kita
inginkan. Siswa adalah pribadi yang merdeka yang memang sudah membawa kodratnya
dan telah tertulis sebelumnya sebagai kodrat alam. Disinilah peran guru adalah menuntun
agar siswa tidak salah dalam mengambil jalan untuk menjadi dirinya
sendiri. Guru hanya berperan sebagai penabur benih dan menjaga pertumbuhan
tanamannya namun tidak pernah bisa mengubah kodrat tanaman itu sendiri. Disamping
kodrat alam ada kodrat zaman dimana tugas guru adalah menuntun siswa agar dapat
menyaring budaya – budaya luar yang mudah sekali masuk sebagai akibat dari
perkembangan ilmu dan teknologi.
Dalam menuntun siswa guru harus bisa
menjadi suri teladan yang baik bagi siswa dan masyarakat, hal ini tidak bisa lepas dari figur guru adalah
sebagai pendidik dan sebagai warga masyarakat. Di dalam kelas guru harus
membangun semangat siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru
harus dapat mendorong siswa untuk maju menyongsong masa depan yang gemilang
menjadi sosok yang penuh kasih sayang, hati yang bersih dan jujur. Ini tidak
lepas dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung tulodo, ing Madya
Mangun Karsa, Tutwuri Handayani, Didepan menjadi contoh, ditengah-
tengah membangun semangat dan di belakang memberi dorongan / motivasi pada
siswa.
Pembelajaran di kelas atau disekolah
harus dilakukan dengan menyenangkan. Kesepakatan kelas dibuat untuk menghargai
siswa dalam memberikan pendapat dan berkomitmen. Komunikasi yang dapat membangun
kerjasama antara guru dan siswa merupakan kunci keberasilan dalam pendidikan.
Guru harus hadir sebagai penuntun siswa dalam menyelesaiakan permasalahan yang
dihadapinya. Guru berperan sebagai kawan dalam sebuah pembelajaran, sehingga
siswa adalah sentral yang harus kita perhatikan sebagi perwujudan dari bentuk
bahwa guru menghamba kepada murid.
Kesimpulan dari
pemikiran KHD bahwa pendidkan diawali dari proses menuntun, pendidikan yang
menuntun untuk melahirkan generasi masa kini yang lebih solidaritas akan
kebersamaan, kolaboratif dan menumbuhkan sikap gotong royong menjadi pribadi
yang kritis, peka terhadap perubahan zaman untuk menyongsong masa depan yang
humanis penuh dengan kasih sayang. Siswa menjadi manusia yang jujur , bersih
hati untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Sesuai dengan pemikiran KHD akan tujuan
pendidikan yaitu menuntun segala kodrat
yang ada pada anak- anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi- tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota
masyarakat.
Bungo, 31 Mei
2022
Oleh : Martini